Belajar Dari Bangkrutnya Kodak – Perusahaan Fotografi Raksasa

Belajar-Dari-Bangkrutnya-Kodak

Masih ingatkah dahulu sekitar tahun 80’an dan 90‘an dimana di banyak studio fotografi memiliki baliho bertuliskan Kodak. Ya, kala itu memang Kodak sedang merajai pasaran produk fotografi bersama pesaing terdekatnya yakni Fuji dan Konica. Kodak adalah penguasa produk fotografi film dari teknologi analog sebelum fotografi digital mulai populer.

Sayangnya saat ini Anda hampir tidak bisa melihat lagi baliho atau papan iklan Kodak di studio foto. Atau Anda sudah jaang bahkan hampir tidak pernah lagi melihat orang menggunakan kamera Kodak. Mengapa dan ada apa? Bukankah Kodak dahulu hampir tidak terkalahkan dari brand fotografi lain? Bayangkan saja, perusahaan bernama lengkap Eastman Kodak Company ini bisa dikatakan memegang peranan penting dalam dunia fotografi selama sekitar 100 tahun.

Jika Anda menanyakan kamera Kodak di toko, kami pastikan Anda sulit mendapatkannya. Kodak sudah mengalami kebangkrutan sehingga sudah tidak ada produk yang dibuat. Tepatnya perusahaan ini mulai menyatakan mengalami kemunduran pada bulan Januari 2012, kemudian secara resmi mengajukan permohonan untuk mendapat perlindungan kepailitan.

Lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa Kodak bisa bangkrut? Mengapa justru perusahaan Amerika Serikat yang dikenal bonafit ini kalah dengan brand-brand fotografi Jepang yang kini menguasai?

1. Transformasi teknologi digital

Perusahaan Kodak mengakui bahwa kemunduran mereka akibat dari perkembangan dan popularitas fotografi digital. Dengan berkembangnya teknologi pencitraan digital, dipastikan fotografi film sudah mulai ditinggalkan karena dianggap lebih repot.

Bayangkan saja, Anda memotret dan harus menunggu proses panjang untuk melihat hasilnya. Sedangkan pada teknologi digital Anda bisa memotret dan langsung melihat hasil foto dari layar yang tersedia. Tentu ini adalah kesalahan yang benar-benar ‘konyol’, karena pada mulanya teknologi fotografi digital justru dikembangkan oleh perusahaan Kodak sendiri.

Pada tahun 1975, Steven J. Sasson yang merupakan seorang insinyur Kodak, berinovasi mengembangkan kamera digital dimana kamera pertamanya mempunyai resolusi hingga sepuluh ribu piksel dan hasil pencitraannya dapat disimpan pada pita kaset..

2. Lambat bergerak

Sebenarnya Kodak sudah memiliki firasat tentang ancaman teknologi fotografi digital yang bakal mengalahkan teknologi film. Khususnya saat Sony merilis kamera digital pertamanya tahun 1981. Setidaknya Kodak memiliki waktu selama satu dekade untuk mengembangkan teknologi digital. Sayang seribu sayang, Kodak kala itu masih belum terlalu serius untuk mengembangkan lebih lanjut teknologi kamera digital.

3. Kodak tetap mengembangkan kamera film

Bukannya mengembangkan kamera digital, Kodak justru ingin mengembangkan kamera film yang dipadukan dengan teknologi digital. Salah satunya adalah pengembangan produk Kodak Advantix digital dimana produk ini adalah bisa dibilang cukup aneh.

Dimaksudkan pengguna Advantix akan memotret kemudian bisa memilih foto mana yang akan dicetak dan foto pilihan tersebut bisa disimpan di dalam film pada kamera Advantix. Bukankah cukup aneh karena ini adalah kamera digital, mengapa pengguna masih harus menggunakan rol film? Kesimpulannya Kodak bangkrut bukan karena dikalahkan foto digital, namun karena ingin mengalahkan foto digital.

4. Masalah internal dalam perusahaan

Selain karena masalah pengembangan, Kodak juga sempat mengalami permasalahan dalam perusahaan. Pada awal milenium 2000 Kodak memang sudah mengembangkan teknologi kamera digital. Namun dalam hal penjualan mereka masih kalah dari Sony. Dalam perusahaan mulai ada kesenjangan antar karyawan. Karyawan Kodak dari divisi film merasa mulai di anak tirikan setelah Kodak memiliki divisi digital. Hal ini karena untuk divisi film keuntungan yang didapat mulai turun drastis.

5. Produk Kodak

Sebelum menyatakan bangkrut, Kodak sempat menghasilkan banyak produk kamera digital. Beberapa diantaranya adalah Kodak DC series, Kodak EasyShare, Kodak DX dan lain-lain. Masing-masing seri diatas memiliki banyak versi. Dan Kodak EasyShare Z5010 dianggap sebagai produk Kodak terakhir sebelum bangkrut.

Kesimpulannya, para pengamat menganggap Kodak berpotensi tetap berjaya apabila mereka mau 100% meninggalkan produksi film yang sudah tidak lagi menguntungkan dan mengembangkan teknologi digital lebih serius. Bukankah ini akhirnya menjadi bukti bahwa suatu perusahaan akan lengser bila tidak memiliki mindset yang terbuka terhadap perubahan. Mau tidak mau, jika ingin selamat Kodak harus melakukan transformasi cepat. Belajarlah dari kecerobohan Kodak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *